Sabtu, 12 Februari 2022, menjadi hari yang bersejarah bagi Prof. Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi. Pengukuhan beliau sebagai Guru Besar dalam bidang Filsafat Islam berlangsung khidmat di hall pertemuan lantai empat Gedung Utama UNIDA Gontor. Ruangan itu dipenuhi oleh tamu dan kolega yang datang memberikan ucapan selamat atas pencapaian yang luar biasa. Seperti biasa, setiap acara di UNIDA Gontor selalu tersusun rapi dan profesional. Namun, yang membuatku benar-benar kagum adalah saat acara baru saja selesai, berita tentang pengukuhan ini langsung tayang di Republika. Aku bertanya-tanya, bagaimana bisa seseorang menulis begitu cepat?
Ternyata, di balik tulisan itu ada sosok Ustadz Erdy Nasrul, seorang jurnalis senior dan alumni Gontor. Kebetulan aku duduk satu baris di belakang beliau selama acara. Seusai pengukuhan, aku memberanikan diri menghampirinya, ingin menyapa sekaligus bertanya bagaimana ia bisa menulis begitu cepat. Dalam obrolan singkat itu, aku merasa perlu bertemu dan berbincang lebih lanjut dengannya, paling tidak selama 30-60 menit, mumpung beliau belum kembali ke Jakarta. Karena jadwalnya padat, aku meminta kontaknya dan menghubunginya kembali melalui WhatsApp.
Aku: “Afwan Ustadz, apakah bisa bertemu untuk ngobrol tentang pengelolaan konten publikasi di website kampus?” Ustadz Edy: “Siap, insyaallah nanti malam ba’da Isya di mess CIOS ya.” Aku: “Baik, Ustadz. Terima kasih, insyaallah saya datang.”
Aku pun pulang ke rumah di Demangan. Rumahku berada di depan balai desa, tak jauh dari tempat tinggal sahabatku, Reza Hutama Al Faruqi. Kami bukan hanya bertetangga, tetapi juga sudah seperti saudara sejak berada di Ponorogo. Reza ini seniorku setahun di atas saat kuliah dulu. Meski berbeda tingkat, usia kami seumuran. Kami mulai akrab saat mengajar di TPQ Al-Mustawa Siman, bekerja bersama di Pascasarjana, hingga akhirnya aku mengikuti jejaknya menjadi dosen di UNIDA Gontor.
Sesampainya di rumah, aku melihat istriku terbaring lemah. Wajahnya pucat dan terlihat jelas ia tidak enak badan. Aku pun membantunya menyiapkan makan malam, lalu kami shalat Maghrib bersama. Setelah Isya, aku bersiap kembali ke kampus untuk bertemu Ustadz Erdy. Namun, setelah menunggu lebih dari setengah jam, beliau belum juga datang. Saat itu, telepon dari istriku masuk. Suaranya terdengar lemah. Ia mengabarkan bahwa tubuhnya semakin tidak enak dan ia merasa tidak sanggup menjaga anak kami.
Tanpa pikir panjang, aku langsung pulang dan mengabari Ustadz Edy bahwa aku harus kembali karena kondisi istri.
Saat tiba di rumah, aku melihat istriku semakin gelisah. Hingga pukul tiga dini hari, ia terbangun dan meminta dipijat karena seluruh tubuhnya terasa pegal dan nyeri. Saat itu, usia kehamilannya baru menginjak enam bulan. Aku mulai panik. Kami butuh segera membawa istriku ke bidan atau rumah sakit. Namun, kendalanya, kami memiliki anak kecil dan tidak bisa menggunakan sepeda motor.
Dalam kondisi bingung, aku mencoba menghubungi Reza. Aku ragu, takut mengganggunya di tengah malam. Namun, alhamdulillah, ia segera mengangkat telepon dan tanpa ragu datang menjemput kami dengan mobilnya.
Kami langsung menuju Rumah Sakit Yasyfin, rumah sakit yang berada di dalam pondok pesantren Gontor. Setibanya di sana, seorang bidan segera menghampiri istriku dan membawanya ke ruang pemeriksaan. Aku menunggu di luar dengan perasaan cemas. Beberapa saat kemudian, bidan keluar dan memberitahukan bahwa denyut jantung janin terlalu tinggi dan istriku mengalami kontraksi dini. Ia menatapku dengan serius.
“Kontraksi ini harus segera dihentikan. Jika tidak, bisa menyebabkan bukaan dan persalinan dini,” jelasnya.
Aku semakin panik. Bidan melanjutkan, “Sayangnya, obat yang dibutuhkan belum tersedia di sini. Kami harus segera merujuk ke rumah sakit yang lebih besar.”
Tanpa pikir panjang, aku menghubungi Reza yang masih menunggu di luar. Tanpa banyak tanya, ia langsung menghidupkan mesin mobil dan kami pun meluncur menuju RSUD Dr. Hardjono Ponorogo.
Di perjalanan, ponselku tiba-tiba bergetar. Ada notifikasi dari Ustadz Taufiq Affandi, menanyakan progres publikasi konten website kampus. Aku menghela napas. Dalam situasi seperti ini, pekerjaan adalah hal terakhir yang ingin kupikirkan, tetapi aku tetap berusaha membalas dengan sopan.
“Afwan, Ustadz. Hari ini saya tidak bisa langsung mengedit tulisan ini karena saya sedang menemani istri berobat. Dia mengalami kontraksi akibat sakit,” tulisku cepat.
Tak lama, beliau membalas, “Mabruuk ya… semoga dimudahkan persalinannya.”
Aku buru-buru menjelaskan. “Afwan, Ustadz. Ini belum waktunya istri saya melahirkan. Baru enam bulan kehamilannya. Saya sedang berusaha menyelamatkan agar bisa lahir normal.”
“Ya Rabb… afwan. Semoga diberikan kesehatan dan kesembuhan. Syifaan aajilan,” balas beliau.
Aku tersenyum kecil, bersyukur masih ada orang-orang yang peduli. Namun, saat ini pikiranku hanya tertuju pada satu hal: menyelamatkan istri dan anakku.
Setibanya di sana, suasana lebih sibuk. Namun, ada yang membuat kami kecewa. Penanganannya terasa lambat. Aku mencoba memaklumi, mungkin karena kondisi pandemi COVID-19. Setelah menunggu cukup lama, akhirnya istriku diperiksa dan harus menjalani tes PCR untuk memastikan apakah ia terpapar virus tersebut atau tidak.
Beberapa waktu kemudian, hasil tes keluar. Istriku dinyatakan positif COVID-19.
Aku terpaku. Pandanganku kosong.
Karena sedang hamil dan terinfeksi COVID-19, istriku harus menjalani isolasi di ruang khusus. Aku diperbolehkan menemani, tetapi anak kami yang berusia 16 bulan tidak diperbolehkan masuk. Ini dilema besar. Kami tidak punya saudara di sini, hanya ada teman-teman yang sudah seperti keluarga. Aku tak ingin merepotkan mereka lebih jauh. Akhirnya, kami mengambil keputusan yang cukup berisiko: aku membawa anak kami masuk diam-diam ke dalam ruang isolasi.
Malam-malam di rumah sakit terasa begitu panjang. Anak kami masih menyusu ASI dan selalu rewel saat jauh dari ibunya. Dengan berat hati, aku mulai memberinya susu formula. Namun, proses menyapih paksa ini tidak mudah. Ia menangis sepanjang malam, sementara aku berusaha menenangkan dan merawat istriku yang masih terbaring lemah.
Setelah tiga hari menjalani perawatan, akhirnya dokter memperbolehkan istriku pulang. Kami diantar dengan ambulans dan harus menjalani isolasi mandiri selama tujuh hari ke depan. Kami berusaha bertahan, menjaga jarak dari orang lain agar tidak menularkan virus ini.
Dalam situasi sulit ini, aku semakin menyadari satu hal: di tanah rantau, saudara sejati bukan hanya mereka yang memiliki hubungan darah, tetapi juga mereka yang hadir saat kita benar-benar membutuhkan. Reza adalah salah satunya. Tak terhitung sudah berapa kali ia membantuku—dari hal-hal kecil seperti meminjamkan motor tanpa meminta ganti bensin, hingga hal besar seperti menolong kami di tengah malam dan membawa kami ke rumah sakit.
Mungkin aku tak pernah bisa membalas semua kebaikannya. Namun, aku tahu satu hal: persaudaraan sejati adalah tentang ketulusan, tentang saling menjaga, dan tentang hadir saat dibutuhkan. Terima kasih, Reza. Kau bukan hanya sahabat, tetapi juga saudara dalam arti yang sesungguhnya.
masyaAllah hebat perjuangan antum dan solidaritas ust Reza. terimakasih sudah berbagi ustadzy. semoga antum dan keluarga diberkahi Allah SWT
Aamiin yaa Rab..
Terimakasih kasih kembali sudah membaca dan mampir di blog kami ini Usth Intan.