Seperti biasa, usai salat subuh, saya berusaha berjibaku menyelesaikan tugas akhir yang tak kunjung rampung. Amanah dari orang tua ini harus segera dituntaskan, namun beberapa target yang saya susun jauh dari harapan. Hari ini, target saya adalah menyelesaikan bahan ajar dan segera mencetaknya.
Sedang asyik mengedit di halaman ke-100, tiba-tiba listrik padam. “Ya salam, hadeuh… ini belum sempat disimpan!” keluh saya. Maklumlah, laptop yang sudah hampir enam tahun ini tidak bisa menyala tanpa aliran listrik.
“Ya sudahlah… lanjut nanti saja.”
Pagi itu, tiba-tiba teman sekamar saya, Hafsol, yang baru selesai melakukan penelitian di salah satu pesantren di Tasikmalaya, menelepon mengajak saya menemaninya ke Bandara Surabaya.
Hafsol: “Sul… ente sibuk nggak? Temenin ane ke bandara, yuk!”
Saya: “Ngapain, Sul?”
Hafsol: “Ngantar barang ke kargo pesawat, mau dikirim ke pondok di Poso.”
Saya: “Oalah, oh… iya. Insyaallah bisa.”
Hafsol: “Nanti ente berangkat pakai mobil sama Pak Tonny, jemput ane dulu di stasiun. Pokoknya ane tunggu di sini, ya.”
Saya: “Oh, gitu… oke.”
Tanpa banyak pikir, pagi itu juga kami langsung berangkat menuju Madiun. Sepanjang jalan, lampu lalu lintas mati akibat listrik yang padam. Alhamdulillah, perjalanan lebih lancar, biasanya butuh satu jam, tapi kali ini hanya 45 menit.
Setelah selesai mengirim barang, kami bertemu dengan teman Hafsol saat di Darul Ma’rifat 3 dulu. Ia berbagi pengalaman dan menceritakan banyak hal tentang masa-masa di ma’had.
Di tengah obrolan, ia tiba-tiba diam sejenak, wajahnya berubah serius. “Kalian tahu nggak? Aku punya teman di Palu yang selamat dari gempa dan tsunami kemarin,” ujarnya.
Saya dan Hafsol saling berpandangan. Gempa Palu terjadi lebih dari sebulan yang lalu, pada 28 September 2018. Kami sudah sering mendengar berita tentang bencana itu, tapi belum pernah mendengar cerita langsung dari orang yang mengalami.
“Jadi begini…” katanya, menarik napas panjang sebelum melanjutkan.
Sebut saja temannya ini Akhi. Setelah lulus dari KMI, ia mengabdi di Pondok Al-Muqodassah yang dipimpin oleh KH. Hasan Abdullah Sahal. Tiga hari sebelum musibah gempa dan tsunami di Palu, Pak Kyai Hasan menghubunginya dan memberi perintah,
“Nak, kamu pergi ke Jawa Barat, belajar lagi di sana. Bawa juga seluruh keluargamu yang ada di Palu.”
Mendengar perintah tersebut, Akhi sempat heran. “Kenapa tiba-tiba saya disuruh pergi?” pikirnya. Ia bukan orang yang mudah meninggalkan tempat begitu saja, apalagi bisnis propertinya di Palu sedang berkembang.
Namun, sebagai santri, ia selalu memegang teguh prinsip sami’na wa atho’na, sehingga ia segera berangkat ke Jawa Barat bersama keluarganya.
Hari demi hari berlalu, dan ia mulai bertanya-tanya, “Apa mungkin ini hanya ujian kesabaran? Apa benar ini perintah yang harus diikuti?”
Lalu, datanglah hari itu. 28 September 2018.
Ia mendapat kabar bahwa tempat tinggalnya di Palu diguncang gempa dahsyat, diikuti tsunami dan likuefaksi yang menelan seluruh kawasan dalam hitungan menit. Wilayah tempat ia tinggal sebelumnya kini hanya lautan lumpur, menelan rumah, kendaraan, dan semua yang ada di atasnya.
Saat itu, ia bersimpuh sujud syukur karena telah selamat dari musibah tersebut. Namun, hati kecilnya bergetar. Semua aset dan bisnisnya lenyap. Ia berusaha menghubungi teman-temannya di Palu, namun banyak yang tak bisa dihubungi.
Lama ia merenung. Ia sadar, seandainya ia tidak mengikuti perintah sang kyai, mungkin namanya sudah masuk dalam daftar korban yang hilang.
Usai mendengar cerita itu, kami melaksanakan salat Ashar di Masjid Al-Akbar Surabaya. Sepanjang perjalanan pulang ke Ponorogo, saya pun bermuhasabah.
Keberkahan terletak dalam ketaatan. Kadang, kita tidak memahami rencana Allah, tetapi jika kita tetap berpegang teguh pada petunjuk orang-orang saleh, Allah akan memberikan jalan keselamatan. Kejadian ini juga mengingatkan kita bahwa harta benda bisa lenyap dalam sekejap, tetapi iman dan kepatuhan kepada Allah adalah kekayaan sejati yang akan menyelamatkan kita, baik di dunia maupun di akhirat.
*Ponorogo, 9 November 2018