Literasi dan Peran Alumni Gontor dalam Dunia Jurnalistik

literasi di gontor

Dalam sebuah diskusi yang penuh wawasan, para alumni Gontor berbagi pengalaman dan gagasan tentang pentingnya literasi dalam dunia jurnalistik dan media massa. Salah satu narasumber utama adalah Uki M. Kurdi, alumni Gontor tahun 1971 dan wartawan pertama dari kalangan alumni Gontor. Beliau mengabdikan dirinya di dunia jurnalistik selama 39 tahun, membuktikan bahwa profesi ini bukan sekadar pekerjaan, tetapi juga sebuah jalan untuk membuka cakrawala dunia.

Menurut Uki M. Kurdi, penting bagi alumni Gontor untuk menguasai media massa, karena dalam realitasnya, hanya mereka yang mampu mengendalikan media yang bisa menjadi pemimpin sejati. Sayangnya, dari sekian banyak santri, hanya sekitar 5-10% yang tertarik pada dunia literasi. Literasi itu sendiri mencakup aspek tertulis maupun audiovisual. Oleh karena itu, para mahasiswa UNIDA memiliki tantangan besar untuk turut serta dalam perkembangan literasi di era digital ini.

Beliau juga berbagi pengalaman pribadinya dalam mengasah keterampilan menulis. “Saat di Gontor, saya memiliki kebiasaan menulis catatan harian atau diary. Setiap hari saya menulis, dan seiring waktu, kualitas tulisan saya semakin membaik. Jika seseorang terbiasa menulis catatan harian, maka ia akan lebih mudah menulis apa saja.”

Pesan dan Pengalaman Para Alumni Gontor

Pada kesempatan yang sama, KH. Anang Rikza Masyhadi mengungkapkan bahwa Ustadz Drs. Nasrullah Zainul Muttaqin, seorang alumni SASDAYA UGM Yogyakarta yang juga dosen ISID Gontor, memiliki kemampuan luar biasa dalam menghadirkan sesuatu yang tak nampak menjadi nampak, serta menyampaikan gagasan yang sulit dipahami menjadi jelas bagi banyak orang.

Beliau juga menyoroti keunikan santri Gontor. “Anak Gontor punya kelebihan khas, yaitu tidak pernah tahu jam dan tidak pernah tahu tanggal. Kenapa? Karena mereka begitu fokus pada tugas yang diamanahkan, sehingga tidak akan berhenti sebelum menyelesaikannya.”

Salah satu bukti nyata budaya literasi di Gontor adalah para pendirinya yang menulis buku sendiri dan mengajarkannya langsung kepada para santri. Ustadz Anang Rikza Masyhadi juga menceritakan pengalaman pribadinya saat tidak naik kelas enam di Gontor. Namun, dari kejadian itu, beliau mendapat hikmah besar: ia bisa menasihati santri yang mengalami hal serupa dengan lebih bijak.

Di Pondok Tazakka, budaya literasi juga diterapkan dengan cara unik, seperti adanya “Hari Update Status” secara offline. Para santri berlomba-lomba menulis status terbaik sebelum perpulangan, karena mereka tidak diperbolehkan membawa ponsel.

Literasi dalam Perspektif Filologi dan Peran Jurnalis

Prof. Sangidu menambahkan bahwa dalam dunia literasi, filologi memiliki peran penting, terutama dalam meneliti manuskrip berbahasa Arab (turats). Dahulu, hasil pemikiran ulama sering ditulis oleh sekretaris mereka, yang kemudian disalin ulang oleh murid-muridnya. Hal ini disebut dengan upografi.

Dalam dunia literasi, ada tiga tipe ulama:

  1. Ulama yang dekat dengan penguasa.
  2. Ulama yang hidup dan mati bersama santri.
  3. Ulama yang dekat dengan santri dan pengusaha.

Sementara itu, Ubaidi mengingatkan pentingnya memahami sejarah para pendiri ma’had secara lebih mendalam. “Jika hanya ditafsirkan secara harfiah, apakah pemahaman yang dihasilkan sudah benar?” ujarnya.

Pesan dan Tips bagi Penulis dan Jurnalis

Ustadz Suud memberikan beberapa pesan penting bagi para jurnalis dan penulis pemula:

  1. Pelajari bahasa asing agar wawasan lebih luas.
  2. Biasakan membaca novel, lalu coba menulis ulang isi novel tersebut dengan gaya sendiri.
  3. Jika ingin menghargai penulis, belilah bukunya, bukan meminta secara gratis.

Beliau juga mengingatkan tentang bahaya infobesitas, yaitu kondisi di mana seseorang kebanjiran informasi tanpa bisa menyaring mana yang valid dan bermanfaat. Gejala infobesitas antara lain:

  • Kesulitan menyaring informasi yang valid.
  • Kesulitan memahami isu.
  • Kesulitan menentukan prioritas.
  • Kesulitan mengambil keputusan berkualitas.

Di era digital ini, ada dua kelompok besar:

  1. Pemilik media sosial (yang mengendalikan informasi).
  2. Pengguna media sosial (yang hanya mengonsumsi informasi).

Public Speaking dan Motivasi dalam Literasi

Ustadz Akbar Zainudin membagikan beberapa tips dalam public speaking. Menurutnya, tiga menit pertama dalam berbicara di depan audiens harus digunakan untuk mencairkan suasana, misalnya dengan membuat mereka tertawa. Hal ini penting untuk membangun kedekatan dengan audiens agar pesan yang disampaikan lebih mudah diterima.

Beliau juga menekankan pentingnya memulai hari dengan semangat positif. “Kalau lagi malas, teriak saja ‘Man jadda wa jada!’ Kehidupan ini banyak ditentukan oleh kata-kata. Saat kita menguasai kata-kata, kita akan menguasai kehidupan. Berkatalah yang baik agar hidup menjadi lebih baik.”

Sementara itu, An Ubaedi memberikan beberapa prinsip dalam menjadi motivator hebat:

  1. Miliki jam terbang tinggi dengan latihan terus-menerus.
  2. Temukan kekhususan atau ciri khas diri sendiri.
  3. Kenali tipe-tipe orang:
    • Orang yang tidak jelas.
    • Orang yang jelas.
    • Orang yang memiliki karya.
  4. Manfaatkan YouTube untuk belajar dan mengembangkan keterampilan.

“Penulis yang baik harus disertai dengan kebiasaan membaca yang baik,” tambahnya.

Para Jurnalis Alumni KMI Gontor yang Hadir

Diskusi ini juga dihadiri oleh beberapa jurnalis alumni KMI Gontor yang telah sukses di berbagai media nasional, di antaranya:

  • Husein Sanusi (Tribunnews)
  • Ikhwanul Kiram (Republika)
  • Uki M. Kurdi (Surya)
  • Yogi (Tribunnews)
  • Erdy Nasrul (Republika)
  • Dewi Yuhana (Malang Post)
  • Dr. Yudi Latief
  • Prof. Dr. Habib Chirzin

Kesimpulan

Diskusi ini memberikan wawasan berharga tentang pentingnya literasi dalam dunia jurnalistik dan media. Alumni Gontor diharapkan tidak hanya menjadi konsumen informasi, tetapi juga produsen yang mampu menyebarkan nilai-nilai Islam dengan cerdas melalui tulisan dan media massa. Dengan mengasah keterampilan literasi, alumni Gontor dapat memainkan peran besar dalam membangun peradaban yang lebih baik.

Menulis adalah cara saya berbicara dengan waktu—membiarkan gagasan tetap hidup, bahkan ketika raga telah tiada.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Tangan yang Selalu Ada

Tangan yang Selalu Ada

Mahasiswa dan Labirin Penyesalan: Mencari Jalan Keluar

Mahasiswa dan Labirin Penyesalan: Mencari Jalan Keluar

Malam Literasi Santri: Merawat Tradisi, Membangun Peradaban

Malam Literasi Santri: Merawat Tradisi, Membangun Peradaban

Perjalanan yang Tak Direncanakan

Perjalanan yang Tak Direncanakan

Tips Cerdas Membeli Buku untuk Mahasiswa

Tips Cerdas Membeli Buku untuk Mahasiswa