Malam Literasi Santri: Merawat Tradisi, Membangun Peradaban

Malam Literasi Santri Gontor

Malam itu, dalam sebuah diskusi hangat di grup WhatsApp Jurnalis Alumni Gontor (JAGO), sekitar 30 alumni berkumpul secara virtual. Diskusi ini lahir dari sebuah kehilangan besar: wafatnya Ustadz Drs. Nasrulloh Zainul Muttaqin, salah satu guru Bahasa Indonesia yang dihormati. Sebagai bentuk penghormatan, kami menyelenggarakan “Malam Literasi Santri,” sebuah refleksi tentang literasi di Gontor dan jejaknya dalam dunia akademik pada Jumat, 1 Februari 2019 .

Literasi: Perjalanan Panjang Peradaban

Prof. Dr. Habib Chirzin, sebagai salah satu narasumber utama, mengingatkan bahwa literasi bukan sekadar membaca dan menulis, melainkan perjalanan panjang peradaban. Literasi yang dibangun di Gontor bukan literasi biasa—ia mencakup apresiasi terhadap sejarah, kesadaran ruang dan waktu, serta refleksi mendalam terhadap realitas yang terjadi.

“MasyaAllah, Pak Zar (KH. Imam Zarkasyi) tidak hanya mengoreksi tulisan, tetapi juga menyelami situasi zamannya—gerakan mahasiswa dan pelajar tahun 1966, cakrawala berpikir yang luas, serta kesadaran terhadap dinamika sosial yang berkembang,” ujar Prof. Habib.

Dalam kesempatan itu, ia juga mengenang sosok Pak Atul sapaan akrab Ustadz Drs. Nasrullah Zainul Muttaqin, seorang tokoh literasi sejati. “Seminggu yang lalu saya ke makam Pak Atul. Pondok Modern ini berdiri di atas fondasi literasi yang melampaui zamannya. Pada tahun 1960-an, Pak Zar bahkan menjadi sekretaris Ki Hadjar Dewantara,” lanjutnya.

Literasi Gontor: Membangun Sistem, Merawat Budaya

Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi turut memberikan perspektifnya tentang peran literasi dalam membentuk karakter santri dan bangsa. Ia menuturkan bahwa literasi di Gontor telah melahirkan sistem pendidikan yang unik. “Gontor adalah super system. Jika kalian di Gontor, kalian harus memilih satu sistem untuk dipegang teguh—entah sistem pendidikan, wakaf, disiplin, atau yang lainnya,” tegasnya.

Literasi di Gontor bukan sekadar budaya membaca dan menulis, tetapi juga sebuah tradisi intelektual yang terus dijaga. Ia mencontohkan bagaimana para Trimurti—KH. Ahmad Sahal, KH. Zainuddin Fananie, dan KH. Imam Zarkasyi—merupakan penulis aktif yang menghasilkan karya-karya monumental. Beberapa di antaranya adalah:

Sejata Penghancur—buku yang sangat diminati oleh pemuda pada zamannya.

Pedoman Pendidikan Modern dan Kursus Bahasa Islam—ditulis bersama KH. Zainuddin Fananie.

Ushuluddin, Pelajaran Fiqh, Pelajaran Tajwid, dan banyak lainnya yang menjadi pegangan dalam pendidikan Islam.

Tak hanya itu, Gontor juga melahirkan berbagai media literasi yang menjadi wadah bagi santri dan alumni dalam menuangkan pemikiran mereka, seperti Darussalam Pos, ITQAN, FP2WS, serta media elektronik seperti Suara Gontor, Gontor TV, Majalah Gontor, dan Gontornews.

Tradisi Menulis: Dari Pemimpin hingga Santri

Dalam sesi diskusi, muncul satu refleksi menarik: banyak ulama dan pemimpin besar lahir dari budaya literasi yang kuat. KH. Idham Chalid, misalnya, membaca Bidayatul Mujtahid hingga tamat sebelum akhirnya memimpin Nahdlatul Ulama selama tiga periode. Begitu pula dengan Nurcholish Madjid yang menjadi pemikir cendekiawan Islam terkemuka.

Dr. Hamid juga membagikan pengalaman pribadinya tentang pentingnya tanggung jawab dalam menulis. Suatu ketika, ayahnya meminta ia menuliskan teks pidato untuk menyambut Presiden Soeharto. Setelah ia tulis dengan tangan, ia meminta sekretarisnya untuk mengetik ulang. “Setelah acara selesai, saya dimarahi habis-habisan oleh ayah saya. Itu pelajaran berharga: jangan serahkan tanggung jawab ke orang lain!” kenangnya.

Literasi sebagai Warisan Intelektual dan Spiritual

Salah satu warisan terbesar yang ditinggalkan Gontor adalah Manuskrip Suluk Gontor, yang mengandung dimensi intelektual dan spiritual dalam pendidikan. Hal ini menunjukkan bahwa literasi bukan hanya tentang membaca dan menulis, tetapi juga membangun kesadaran, memahami sejarah, dan meneruskan nilai-nilai luhur kepada generasi selanjutnya.

Malam Literasi Santri ini bukan sekadar ajang diskusi, tetapi sebuah pengingat bahwa literasi adalah pondasi peradaban. Sejarah telah membuktikan bahwa Gontor, dengan segala tradisi literasinya, terus menjadi sumber inspirasi bagi banyak orang. Kini, tugas kita adalah menjaga dan mengembangkan tradisi tersebut, agar terus menjadi cahaya bagi umat dan bangsa. Bersambung..

Menulis adalah cara saya berbicara dengan waktu—membiarkan gagasan tetap hidup, bahkan ketika raga telah tiada.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You might also like
Tangan yang Selalu Ada

Tangan yang Selalu Ada

Mahasiswa dan Labirin Penyesalan: Mencari Jalan Keluar

Mahasiswa dan Labirin Penyesalan: Mencari Jalan Keluar

Literasi dan Peran Alumni Gontor dalam Dunia Jurnalistik

Literasi dan Peran Alumni Gontor dalam Dunia Jurnalistik

Perjalanan yang Tak Direncanakan

Perjalanan yang Tak Direncanakan

Tips Cerdas Membeli Buku untuk Mahasiswa

Tips Cerdas Membeli Buku untuk Mahasiswa