Dalam era digital yang semakin menggila ini, minat membaca di kalangan generasi milenial menjadi salah satu tantangan terbesar. Prof. Dr. KH Hamid Fahmy Zarkasyi, Rektor UNIDA Gontor, menawarkan pandangan dan motivasi mendalamnya untuk meningkatkan minat membaca, menganggapnya sebagai investasi penting dalam perkembangan pribadi dan intelektual.
Prof. Hamid Fahmy Zarkasyi mencatat bahwa minat baca generasi milenial rendah, sedangkan minat terhadap konten multimedia di media sosial sangat tinggi. Fenomena ini menciptakan “penyakit” di mana seseorang dapat menghabiskan berjam-jam di depan ponselnya, tetapi merasa ngantuk dalam waktu singkat saat membaca buku. Secara global, Indonesia menduduki peringkat 65 dari negara-negara yang memiliki tingkat membaca rendah.
Bahkan, kita berada di bawah Malaysia, Thailand, Singapura, dan sejumlah negara lainnya. Sebuah data yang mencerminkan bahwa kebiasaan membaca belum merata di masyarakat.
“Orang berjam-jam berada di depan handphonenya, tapi dalam tempo 10 menit di depan buku, dia sudah ngantuk. Ini tragedi zaman milenial.”
Dalam sebuah kuliah tujuh menit di masjid jami UNIDA Gontor, Prof Dr KH Hamid Fahmy Zarkasyi, Rektor UNIDA Gontor, mengungkapkan keprihatinannya terhadap rendahnya minat baca di kalangan generasi muda. Ia menyoroti bahwa di beberapa negara Eropa, mahasiswa dapat membaca puluhan buku setiap tahun, sementara di Indonesia, angka tersebut jauh lebih rendah.
Prof Hamid Fahmy Zarkasyi mencatat bahwa kebiasaan membaca harus dimulai dari keluarga. Tradisi membaca sejak kecil harus menjadi bagian dari budaya dalam setiap keluarga. Salah satu masalah yang dihadapi adalah anggaran bulanan keluarga yang seringkali tidak mengalokasikan dana untuk buku.
Namun, Prof Hamid Fahmy Zarkasyi menegaskan bahwa orientasi keluarga, terutama terkait dengan anggaran bulanan, harus bergeser. Jika anggaran lebih banyak untuk kuliner daripada untuk buku, orientasinya perlu lebih besar. Ia menekankan bahwa kurangnya membaca harus dirasakan sebagai kehilangan, seperti halnya tidak makan sehari yang membuat seseorang merasa kelaparan.
“Membaca, menulis, dan berdiskusi adalah ‘syariat akademik’ yang tidak dapat ditawar.”
“Kalau Anda hanya membaca saja, tanpa diskusi, itu bisa menimbulkan stres. Ilmunya jadi sesuatu yang bersifat batiniah, sama seperti orang yang makan banyak tapi tidak berolahraga. Itu seperti memiliki kolesterol tinggi.”
Sebagai langkah nyata, Prof Hamid Fahmy Zarkasyi mendorong agar generasi milenial mengikuti dan mengimplementasikan motto “berbudi tinggi, berbadan sehat, berpengetahuan luas.” Ia menegaskan bahwa tidak ada jalan lain kecuali membaca.
Dalam konteks pemahaman syariat, Prof Hamid Fahmy Zarkasyi menekankan bahwa membaca adalah kunci untuk menjalankan syariat dengan baik. Setiap aspek kehidupan, dari sosial, politik, budaya, hingga pendidikan, memerlukan pemahaman yang mendalam, dan itu dapat dicapai melalui kebiasaan membaca.
Dalam rangka menumbuhkan semangat membaca di kalangan generasi milenial, Prof Hamid Fahmy Zarkasyi mengajak untuk terus membaca dan tidak berhenti belajar. Diskusi ilmiah dan penulisan ilmiah merupakan syariat akademik yang tidak bisa ditawar. Oleh karena itu, kegiatan membaca harus menjadi prioritas bagi mereka yang ingin berkembang secara intelektual.
Prof. Zarkasyi memberikan penekanan khusus pada hubungan erat antara membaca, menulis, dan berdiskusi. Ia berpendapat bahwa tidak membaca dapat menghambat kemampuan menulis, dan bahwa berdiskusi tanpa dasar bacaan yang kuat dapat menjadi kurang produktif.
“Seseorang tidak bisa menulis kalau dia tidak membaca terlebih dahulu. Begitu juga dalam berdiskusi, pemahaman yang mendasar dari bacaan menjadi kunci untuk menyampaikan pandangan.”
Dalam upayanya menumbuhkan minat baca, Prof. Hamid mengajak kita untuk melihat keteladanan ulama terdahulu, seperti At Thabari, Ibnu Sina, dan Hafidz al-Bagdadi, yang memiliki dedikasi luar biasa terhadap membaca dan menulis.
“Ibnu Sina menulis empat buku setiap tahun, sementara Hafidz al-Bagdadi membaca 7000 hadits. Mereka adalah contoh nyata betapa membaca adalah kunci untuk pengembangan diri.”
Dalam konteks ini, Prof. Hamid menyuguhkan angka yang menggugah pikiran. Ia menggambarkan praktik ulama-ulama terdahulu yang mengesankan: At Thabari menulis 40 halaman setiap hari selama 40 tahun hidupnya, menciptakan karya sebanyak 584 ribu halaman. Ia juga memberikan contoh Ibnu Sina yang menulis 160 buku selama hidupnya.
“Ibnu Sina rata-rata menulis empat buku setiap tahun. Kitab Insoft itu ditulis selama enam bulan berisi 28.000 halaman, luar biasa!”
Muhasabah diri menjadi langkah penting dalam peningkatan minat membaca. Prof. Hamid mengajak kita untuk menilai diri kita sendiri sejauh mana kita mampu mengikuti jejak ulama terdahulu.
“Tidak ada jalan lain kecuali membaca. Untuk menjalankan syariah dengan sempurna, kita harus membaca.”
Prof. Hamid menyoroti peran membaca sebagai jendela untuk memahami kondisi sosial, politik, dan budaya. Ia menegaskan bahwa membaca adalah langkah awal untuk menulis pendahuluan skripsi atau tesis yang informatif.
“Setiap mahasiswa yang menulis skripsi atau tesis akan memulai dengan menggambarkan situasi sosial, politik, dan ekonomi. Tanpa membaca, bagaimana kita akan mengetahui apakah wacana yang kita baca itu baru?”
Pentingnya membaca sebagai pengukur prestasi juga ditekankan oleh Prof. Zarkasyi. Ia merangsang pemikiran kita untuk menilai prestasi kita dengan mengukur sejauh mana kita bisa mengasah kemampuan membaca.
“Orang yang berdiskusi harus berbicara berdasarkan bacaan yang sudah dia peroleh.”
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa membaca bukan hanya sekadar kegiatan, melainkan kunci menuju kesuksesan dan pengembangan diri. Prof. Dr. KH Hamid Fahmy Zarkasyi memberikan inspirasi dan motivasi yang kuat untuk membangkitkan semangat membaca di kalangan generasi milenial. Dengan membaca, kita membuka pintu menuju pengetahuan, pemahaman, dan pandangan yang lebih luas, membentuk fondasi kokoh untuk meraih kesuksesan di era yang penuh dengan dinamika ini.