Universitas Darussalam Gontor kembali menggelar seminar nasional dan internasional yang ke-6. Kalinya bersama Prof. Imam Suprayogo, dihadiri oleh Prof. Dr. Amal Fathullah Zarkasyi, KH. Heru Saiful Anwar, M.A., dan Dr. Agus Budiman, M.Pd.
Dalam sambutannya, Prof. Dr. Amal Fathullah Zarkasyi menegaskan pentingnya mempertahankan nilai-nilai Islam dalam pendidikan. Beliau mengingatkan bahwa Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor harus tetap teguh menghadapi arus liberalisme dan sekularisme yang kian melanda dunia pendidikan.
Beliau juga menyoroti peran Center for Islamic Occidental Studies (CIOS) sebagai satu-satunya pusat kajian oksidentalisme di dunia. Menurutnya, UNIDA harus terus membangun benteng keilmuan yang kuat agar tidak terpengaruh oleh ideologi yang bertentangan dengan Islam.
“Lebih baik minoritas masuk surga daripada mayoritas keblinger,” tegasnya.
Prof. Imam Suprayogo berbagi pengalaman dari berbagai negara seperti Jepang, Amerika, Rusia, dan Italia. Menurutnya, meskipun masyarakat di negara-negara tersebut cenderung tidak religius, mereka memiliki sistem penataan yang baik.
Namun, beliau menggarisbawahi bahwa kemajuan sejati bukan hanya diukur dari aspek material semata, melainkan dari keberhasilan membangun masyarakat yang jujur, amanah, dan memiliki integritas.
“Semakin tinggi pendidikan seseorang, seharusnya semakin jujur,” ungkapnya.
Dr. Agus Budiman, M.Pd. menambahkan bahwa kurikulum bukan sekadar rencana pembelajaran, melainkan jalan hidup. Pendidikan harus dirancang secara makro dan mikro agar benar-benar membentuk karakter peserta didik. Dalam hal ini, teknologi pendidikan berperan seperti garam dalam masakan—tidak terlihat tetapi sangat berpengaruh.
Beliau juga memaparkan tiga aspek utama dalam pemanfaatan sumber belajar:
Teknologi pendidikan, lanjutnya, bukan sekadar alat, melainkan solusi untuk meningkatkan efektivitas pembelajaran.
KH. Heru Saiful Anwar, M.A., menekankan pentingnya tradisi menulis dalam dunia akademik. Menurutnya, menulis adalah salah satu cara untuk menjaga ilmu tetap hidup dan berkembang.
Beliau sendiri memiliki kebiasaan menulis setiap pagi setelah shalat Subuh. Ini adalah bentuk dedikasi dalam menjaga ilmu agar tidak hilang begitu saja.
Dalam era digital ini, tantangan dunia pendidikan semakin kompleks. Pendidikan Islam harus mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan jati diri. Digitalisasi pembelajaran, integrasi teknologi, dan penguatan nilai-nilai Islam menjadi kunci utama dalam mencetak generasi yang unggul.
Prof. Imam Suprayogo menambahkan bahwa salah satu strategi yang perlu dikembangkan adalah pembelajaran berbasis teknologi yang tetap berpegang teguh pada prinsip-prinsip Islam.
“Pendidikan harus mampu mencetak generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki akhlak yang kuat,” katanya.
Seminar Tarbiyah ini menegaskan kembali pentingnya pendidikan Islam yang berkualitas, berbasis nilai-nilai Islam, dan didukung oleh kurikulum yang kuat. Para pembicara sepakat bahwa pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, tetapi juga pembentukan karakter yang jujur dan berintegritas.
Sebagai penutup, mari kita renungkan pertanyaan ini: Apakah pendidikan kita hari ini sudah benar-benar mencetak generasi yang jujur dan berakhlak? Jika belum, apa yang bisa kita lakukan untuk memperbaikinya?