Di tengah semangat mengabdi dan dakwah yang terus digaungkan oleh lembaga pendidikan Islam, sering kali muncul perdebatan tentang guru: apakah mereka seharusnya digaji layak atau cukup diberi pahala dan ucapan terima kasih?
Beberapa orang menganggap mengajar agama tak pantas dijadikan ladang rezeki. Sebagian lagi merasa tak adil jika harus terus mengajar tanpa kepastian penghasilan, apalagi ketika kebutuhan keluarga semakin mendesak. Lalu, di mana titik tengahnya?
Dalam tulisan yang bijak dan menyejukkan, Najih Ibn Abdil Hameed mencoba memberikan kerangka berpikir yang jernih. Beliau mengajak kita “mendudukkan pada posisi masing-masing”, tidak memukul rata semua kondisi dengan satu hukum. Berikut ini ringkasan dan ulasan dari poin-poin penting dalam tulisannya:
Kalau Anda masih lajang, belum punya tanggungan keluarga, dan biaya hidup masih ditanggung orang tua, maka mengajarlah untuk mengabdi. Jangan dulu bicara soal bayaran tinggi. Anda sedang berada dalam maqam tajrîd—yakni hidup bersandar penuh pada pertolongan Allah, tanpa bergantung pada upah duniawi.
Kalau Anda sudah punya keluarga tapi punya pekerjaan tetap yang mencukupi, silakan mengajar di waktu luang sebagai pengabdian. Jangan jadikan mengajar agama sebagai sumber penghasilan utama. Ini maqam asbâb—Anda mengambil sebab, tapi tetap bisa berkontribusi dalam dakwah.
Kalau satu-satunya pekerjaan Anda adalah mengajar dan gaji dari mengajar tidak mencukupi kebutuhan keluarga, maka carilah pekerjaan lain. Mengajar itu fardhu kifayah, tapi menafkahi keluarga adalah fardhu ‘ain. Jangan sampai semangat dakwah membuat Anda lalai pada kewajiban primer.
Kalau Anda mengajar dan bisyarah yang diterima sudah mencukupi kebutuhan hidup—minimal UMR—maka bersyukurlah dan teruskan mengajar dengan sepenuh hati. Niatkan untuk dakwah dan ibadah, bukan semata-mata mencari penghasilan.
Jika Anda adalah kiai, kepala sekolah, atau yayasan yang mengelola lembaga dengan pemasukan cukup (dari SPP, unit usaha, atau bantuan pemerintah), maka hargailah guru-guru Anda. Berikan mereka bisyarah yang layak, setara minimal dengan guru PNS. Jangan menjadikan idealisme pengabdian sebagai alat eksploitasi.
Kalau Anda berada di lingkungan dengan keterbatasan ekonomi, maka rekrutlah guru-guru yang memang secara sadar siap untuk mengabdi, dan pastikan kesepakatan bisyarah jelas di awal. Jangan memaksa mereka yang sedang butuh nafkah layak untuk kerja bakti, apalagi mengancam alumni pesantren bahwa mereka “tidak bermanfaat” jika memilih kerja di pabrik.
Inilah kuncinya. Jangan memaksakan satu standar atau idealisme untuk semua orang. Setiap orang punya maqam, fase hidup, dan kondisi yang berbeda. Pahami konteks, bukan hanya teks.
Ada yang hafal Al-Qur’an tapi kerja di pabrik? Kenapa tidak? Jangan buru-buru menilai. Barangkali itulah jalan terbaik baginya saat ini. Dan siapa tahu, justru lewat jalur itu dia tetap bisa menjaga keberkahan hafalannya dan menafkahi keluarganya dengan cara yang halal dan terhormat.
Wahai para orang tua, ingatlah bahwa mendidik anak adalah tugas Anda. Guru hanya membantu menggantikan sebagian tanggung jawab itu. Maka, saat ada orang yang rela mencurahkan ilmu, waktu, dan tenaganya untuk anak Anda, berikan penghargaan yang layak. Bukan cuma sekadar “terima kasih”, tapi juga dalam bentuk penghormatan dan dukungan finansial yang layak, demi keberkahan ilmu anak Anda.
Mengajar adalah ladang pahala, tapi juga bisa menjadi ladang nafkah. Tidak semua orang bisa berada di posisi “ikhlas tanpa bayaran”, sebagaimana tidak semua lembaga mampu menggaji besar. Maka, keadilan sosial dan kebijaksanaan harus hadir dalam dunia pendidikan. Setiap orang punya kondisi berbeda, dan sudah seharusnya kita saling memahami, bukan saling menuntut dalam standar yang seragam.
Sebagai orang yang pernah merasakan berada di hampir semua posisi yang disebutkan—dari pengajar lajang yang idealis, hingga kepala keluarga yang harus memikirkan beras dan susu anak—saya merasakan betul beratnya menjaga niat sambil tetap realistis. Ada saatnya kita bisa total mengabdi, ada kalanya kita harus jujur pada keadaan.
Tulisan ini bukan untuk mencari pembenaran, tapi untuk menghadirkan pemahaman. Bahwa guru bukan mesin amal, dan lembaga bukan tempat eksploitasi berjubah agama. Kalau kita saling menghormati peran dan posisi, insya Allah pendidikan akan tumbuh dengan keberkahan, bukan dengan keterpaksaan.
Sumber asli tulisan: Najih Ibn Abdil Hameed (dengan penyesuaian gaya dan penambahan oleh Hibatul Wafi)