Mengapa Keluarga Merupakan Fondasi Terpenting dalam Kehidupan?

Keluarga merupakan unsur penting dalam kehidupan masyarakat. Keluarga yang baik akan membentuk masyarakat yang baik dan demikian sebaliknya, buruknya kualitas keluarga berdampak pada turunnya kualitas masyarakat. Maka memerhatikan keluarga adalah bagian penting dalam proses membangun manusia.

Dalam konteks agama, keluarga adalah bagian dari upaya menyempurnakan separuh agama, menjalin silaturahim, memperluas jangkauan kebaikan, dan menambah jumlah manusia yang bersujud kepada Allah SWT. Lebih dari itu keluarga merupakan bagian dari kebahagiaan dunia juga akhirat.

Bsgi umat muslim keluarga bukanlah sekedar ikatan dan hubungan social di dunia, tetapi keluarga adalah sarana untuk menyemai kebaikan, meuempurnakan keimanan, dan jalan untuk meraih kebahagiaan di Surga.

Keluarga tebentuk dari pernikahan antara lelaki dan perempuan dan menikah merupakan perintah Allah serta Sunah Nabi SAW yang sangat dianjurkan. Menikah juga merupakan sarana untuk saling bersinergi mendekatkan diri kepada Allah SWT, wasolah untuk menyempurnakan separuh agama, kesempatan untuk memperbanyak syukur dan sabar, momen untuk menyalurkan kebutuhan biologis yang dengannya akan lahir generasi saleh-salehah yang akan memberatkan bumi dengan kalimat tauhid.

Memutuskan untuk memasuki jenjang pernikahan merupakan keputusan yang besar. Karena separuh sisa hidup kita bahkan lebih akan kita lalui bersama pasangan yang telah kita pilih. Ia menentukan kehidupan masa depan, baik di dunia maupun di akhirat

Keluarga Bervisi Surga

Buku yang ditulis oleh Ibnu Abdil Bari berjudul “Keluarga Bervisi Surga” membahas bagaimana menumbuhkan dan mempertahankan cinta suci bersama pasangan hingga akhir hayyat. Sesuai dengan judulnya buku ini diharapkan mampu membawa para pembaca sevisi dan semisi dalam berumah tangga hingga bisa berkumpul Kembali di surga Nya.

Dalam buku ini dibagai menjadi tujuh bagian yang terdiri dari bagian pertama, membahas sebelum memutuskan untuk menikah yang diuraikan dalam beberapa tulisan yaitu “Niat Menikah dan Barakah”, Mempertimbangkan Agama dan Juga Akhlaknya”, “Ketika Cinta Berbalas Cint”, “Memilih yang Keislamannya Baik”, “Selektif Memilih Pasangan”, “Dahulukan Baik Sngka” dan “Semua Terjadi atas Izin Nua”.

Disini penulis memberikan contoh dengan kisah-kisah teladan seperti yang dikisahkan oleh Yahya bin Yahya An-Naisaburi tentang sahabatnya yang menikah karena berbagai hal .

Kemudian dibagain kedua, Seni hidup berkeluarga. Dalam bagian ini membahas bagaiamana berinteraksi yang baik dengan pasangan disertai berbagaimacam kiat-kiat dan contoh seperti “Mengenyagkan Egoisme”, “Jadilah Pendengar yang Setia”, “Belajar Berkomunikasi”, “Menjaga Kondisi Psikologis Istri” dan “Mengungkapkan cinta”.

Dibagian ini juga membahas bagaimana jika suatu saat keluarga diuji denagn sebuah konflik, perselisihan dan pertikaian yang datang dari pasangan sendiri. Suami sebagai kepala keluarga harus bersikap tenang dan berpikir jernih. Sudah selayaknya ia menjadi pendengar dan meredan kemarhan istrinya dengan bijak.

Selanjutnya, dibagain ketiga, Kunci Rumah Tangga Bahagia. Pada bagian ini penulis menjabarkan dalam Sembilan judul tentang kunci kebahagiaan rumah tangga. Salahsatu contohnya adalah “Makanan Halal Sumber Keberkahan”. Disini Penulis menjelaskan bahwa problem, musibah, malapetaka, bencana, kesialan, dan semisal itu berasal dari kesalahan kita sendiri.

Tersebab kemaksiatan dan dosa yang kita lakukan sendiri. Termasuk problem kita dalam mendidik istri dan anak-anak. Dan terkadang penyebab itu semua adalah hal sepele yang berasal dari sesuap makanan yang kita makan.

Makanan yang halal adalah salah satu penyebab hadirnya keberkahan, tumbuh-seburnya keinginan untuk melaksanakan ketaatan, diraihnya kelezatan dalam berbakti kepada Allah dan keharmonisan dalam hidup berumah tangga. Sebaliknya, makanan yang haram adalah sala satu penyebab lenyapnya keberkahan dalam hidup, sebab hialangnya kenikmatan munajat, tidak terkabulkannya doa, dan penyulut rusaknya kehisupan berumah tangga.

Pada bagian keempat, penulis memberikan gambaran istri-istri teladan dengan berbagai contoh yang ada pada zaman Rasulullah dan para sahabat. Membahas kemuliaan Ibu rumah tangga yang diemban oleh seorang istri.

Menjadi Ibu rumah tangga adalah ladang pahala bagi para Wanita; mereka akan mendapatkan pahala dari amalan yang hanya dikhususkan bagi lelaki saja, yaitu shalat jum’at, shalat berjama’ah, mengunjungi orang sakit, mengantarkan jenazah, berhaji setelah wajib, dan yang paling utama dari itu semua adalah jihad di jalan Allah. Caranya? Gampang, cukup dengan berlaku baik kepada suami, berupaya mendapatka keridhaannya, dan tunduk untuk senantiasa maatinya. Disamping itu, ini merupakan yang terpenting dan terberat mensalehkan suami untuk melakukan amal-amal tersebut di atas.

Menjadi pasangan yang romantis, merupakan judul pada bagian ke lima dalam buku ini. Terdiri dari “Ada Cinta ketika Hamil”, “Ada Cinta dalam Bermesra”, “Canda yang Berpahala”, “Momen yang Istimewa”. Bagian keenam membahas tips-tips jitu dalam berumah tangga dan pada bagian terakhir mengulas Muhasabah Cinta.

Penutup

Buku ini sangat direkomendasikan bagi muda-mudi yang hendak menikah sebagai bekal sebelum berumah tangga. Cocok juga bagi pasangan suami-istri agar semakin mendalami lagi perannya dalam berumah tangga supaya tercipta keluarga yang harmonis.

Di antara ciri bahwa sebuah keluarga itu bervisi surga adalah keluarga tersebut menghadirkan visi tersebut dalam kehidupan sehari-hari, dan membandingkan masalah yang dihadapi dengan visi surga yang dimiliki sehingga masalah yang ada bisa dengan mudah diselesaikan dan kekurangan pasangan bisa ditoleransi slama tidak menggar syar’i.

 

Menulis adalah cara saya berbicara dengan waktu—membiarkan gagasan tetap hidup, bahkan ketika raga telah tiada.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *